Setiap hari Jumat, semua karyawan Syaamil Group diwajibkan untuk mengikuti program KII alias Kajian Islam Intensif yang dilaksanakan selama satu jam (pukul 08:00 – 09:00). Normalnya dilaksanakan di Masjid Asy-Syaamil, tetapi selama masa pandemi ini, KII dilaksanakan secara online. Karyawan yang bekerja di rumah atau di kantor tetap bisa melaksanakannya melalui aplikasi zoom.

Pada tanggal 09 April 2021 atau bertepatan dengan 26 Sya’ban 1442H adalah hari Jumat yang istimewa karena tema KII kali ini diisi oleh Ustadz Luqmanul Hakim, pendiri dan pengasuh Pondok Modern Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin, sekaligus kick off atau dimulainya Pesantren Keluarga Ramadhan Syaamil Group yang dibuka oleh Pak Riza Zacharias, Chairman Syaamil Group.

Pak Riza dalam pembukaannya menyampaikan dengan mata berkaca-kaca, sebagai tanda akan rindunya pada bulan Ramadhan, “Betapa para sahabat Rasulullah saw. sangat merindukan bulan Ramadhan. Ketika akan berpisah dengannya, begitu berat dan sedih. Mereka seperti kehilangan seseorang yang amat disayanginya.” Bulan Ramadhan ini adalah bulan Al-Quran, dan semoga Al-Quran itu menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itulah kita harus bisa berinteraksi dengan Al-Quran jauh lebih intens lagi.

“Allah mengizinkan kita semua untuk bersahabat dengan Al-Quran. Dan saat dihisab nanti, Al-Quran semoga menjadi rekan terbaik. Syaamil Group mengadakan acara Pesantren Keluarga Ramadhan sebagai bentuk bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Kami berharap Islam dengan petunjuk Al-Quran, bisa meresap dan menjadi bagian dari Syaamil Group,” tutupnya.

Sementara Ustadz Luqmanul Hakim membuka taujihnya dengan penjelasan bahwa Allah itu Maha Baik, dan tidak mungkin menciptakan manusia untuk tidak masuk ke dalam surga. Allah Swt. sangat menginginkan semua manusia bisa masuk ke dalam surga. Untuk itu, diperlukan alat sebagai panduannya atau manual book. Panduan itu adalah Al-Quran.

“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”

(QS Az-Zumar, 39: 45)

Ayat ini mengingatkan pada kisah seorang pengemis, yang setiap hari membawa sebuah mangkok ke mana-mana. Ia berkata pada setiap orang yang ditemuinya, “Alangkah beruntungnya hidup kalian karena tidak harus membawa mangkok ini.” Hingga kemudian pengemis tersebut wafat di tepi jalan dan hanya meninggalkan mangkoknya.

Seorang dokter kaya kemudian memeriksa mangkok yang tampak bernilai itu dan ternyata … mangkok tersebut berusia ribuan tahun dan nilainya tak ternilai. Bisa jadi nilainya jauh melebihi kekayaan dokter tersebut. “Andai pengemis ini tahu betapa besarnya nilai mangkok yang dibawanya, maka bisa jadi sayalah yang menjadi pengemis,” kata dokter itu merenung.

Mangkok itu laksana Al-Quran. Sudahkah kita menjadikan mangkok yang dibawa setiap hari itu sebagai benda belaka atau harta yang tak ternilai harganya? Maka beruntunglah manusia yang menjadi Al-Quran sebagai panduan bagi hidupnya. Beruntunglah karyawan Syaamil Group yang bekerja memproduksi Al-Quran lalu tersebar ke mana-mana.

Santri-santri di kota atau bahkan di daerah pedalaman yang akses jalannya sulit, ternyata kesehariannya membaca Syaamil Quran. Mereka hafiz karena Syaamil Quran. Masya Allah. Sementara di luar sana masih banyak orang-orang yang bisa jadi tidak beruntung seperti karyawan Syaamil Group.

Ada wanita yang harus melepas jilbabnya karena tempat kerjanya melarang karyawati muslimnya untuk memakai jilbab. Masih ada di luar sana seorang satpam di hotel yang kerjaannya hanya memapah orang mabuk setiap malam. Maka berbahagialah para karyawan Syaamil Group yang diberi kenikmatan bisa bekerja untuk memproduksi Al-Quran.

Di luar sana, masih banyak yang ilmu agamanya luar biasa, hafiz, tetapi belum atau tidak bisa bergabung dengan Syaamil Group. Siapa sih kita? Maka bersyukurlah akan nikmat ini. Jangan pernah mengeluh saat belajar Al-Quran. Jangan pernah mengeluh dengan program Pesantren Keluarga Ramadhan yang dicanangkan oleh Syaamil Group ini.

Rasulullah saw. sendiri meski sudah dianggap sebagai manusia yang dijamin oleh Allah Swt. masuk ke dalam surga, ternyata tetap beribadah hingga kakinya bengkak. Ya Allah beri kami ilmu agar bisa membaca Al-Quran dengan benar. Beri kami ilmu agar bisa memahami Al-Quran dengan baik.

Nikmat itu begitu terasa kalau belum dimiliki, tetapi tidak terasa saat sudah dimiliki. Ingatlah bahwa laut merah itu menenggelamkan Firaun, tetapi laut yang sama telah menyelamatkan Nabi Musa as. Jadi meski sudah bekerja di Syaamil Group yang telah memproduksi Al-Quran, jangan pernah yakin bahwa di akhirat nanti akan bahagia.

Oleh karena itu, raihlah surga dengan sungguh-sungguh. Baca dan dalami Al-Quran dengan sebaik-baiknya. Jadikanlah Syaamil Group sebagai kendaraan untuk meraih surga, sebagaimana laut merah telah menyelamatkan Nabi Musa as. Jangan sampai kita atau keluarga kita menjadi orang yang dijauhkan dari Al-Quran.

“Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan daripada mendengar Al-Quran itu.”

(QS Asy-Syu’ara, 26: 212)

Pahami Al-Quran, tidak hanya sekadar membacanya. Sebagai contoh, kalau Allah Swt. sudah mengharamkan riba, maka jauhilah sesegera mungkin. Jangan nanggung! Orang itu kalau di Mal merasa kaya, apa saja pengen dibeli. Akan tetapi kalau masuk ke masjid tiba-tiba dirinya menjadi orang paling miskin. Na’udzubillah. Besarkan Allah Swt. di hati maka dunia akan menjadi kecil di matamu.

Pertanyaannya : kita yang harus mencocokkan diri dengan Al-Quran atau Al-Quran-nya yang harus diubah sesuai keinginan kita?

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x