KOMBES | Komunitas Blogger Syaamil | Syaamil Group

“Pada awalnya belum punya gambaran apapun tentang KOMBES itu apa. (Hanya) semangat belajar, itu yang jadi motivasi, meskipun sudah agak terlambat. Saya sendiri jarang sekali aktif di media sosial, apalagi menulis blog … belum pernah sama sekali. Akan tetapi, saya suka iri ketika melihat temen-temen memposting atau menulis di media sosial dengan bahasa yang sangat menarik, dengan ilustrasi dan segala macamnya.”

“Pernah mencoba untuk mengunggah sesuatu tentang Syaamil Quran, tapi belum bisa membuat narasi, apalagi dengan tampilan ilustrasi yang menarik. Ujung-ujungnya jadi garing.” Edy Prayitno menarik nafas panjang. “Padahal, sebagai sales (tentu) membawa nama besar Syaamil Quran. Kemampuan untuk bisa menulis di media sosial (jelas) sangat diperlukan.”

“Nah, kebetulan muncullah KOMBES ini. Masuuuk, Pak Eko. Saatnya belajar, siapa tau ada bakat terpendam. Kalaupun nanti hasil akhirnya belum bisa sesuai harapan, paling tidak (sudah) ada usaha berproses untuk selalu belajar. Paling tidak, bisa menulis perjalanan hidup sendiri. Perjalanan hidup yang bisa dinikmati sebagai pembelajaran dan pengalaman untuk anak cucu.”

“Matur nuwun. KOMBES is the best,” tutup Edy. Zulfahmi Abdillah adalah peserta yang hanya bisa menyaksikan acara KOMBES secara online alias hanya melalui zoom meeting karena tinggal di Medan. Katanya, “Si Jon menulis. Di hari pertama, setelah ia tulis kemudian dirobek dan dibuang ke tempat sampah. Di hari kedua pun sama, begitu terus hingga hari ke enam.”

“Hingga akhirnya pada hari ke tujuh, (itulah) tulisan (sebenarnya). Begitulah kisah pengantar pertemuan Kombes (Komunitas Blogger Syaamil), tentang si Jon. Lupa aku siapa nama lengkap si Jon. Pun lupa berapa kali dia membuang kertasnya. Alhamdulillah, Syaamil Group memfasilitasi orang macam awak supaya rajin menulis lagi. Biar gak cuma menulis orderan dari mitra Syaamil Quran aja.”

“Padahal, dulu rajin kali menulis di blog dan ESENSI. Duuuh terkenang. Yok lah, bismillah, kita mulakan,” sahut Zulfahmi tersenyum. Sementara itu, Lili Mudin hanya menuliskan susunan acara KOMBES setiap menitnya. Rajin sekali, tetapi ini tetap harus diapresiasi. Ia menuliskan, “Assalamualaikum. Berikut ini sebuah goresan pena. Mohon maaf dengan segala keterbatasan. Optimis.”

“Jam 07.45 diminta untuk menunggu open gate. Eh, dikoreksi jadi 08.30. Alhamdulillah ada kesempatan sholat Dhuha dan tilawah. Sampai di lokasi jam 08.45, masih menunggu 15 menit lagi. Hingga jam 09.05 terdengar ‘Tes … tesss….’ akhirnya. Lalu … KOM … prok-prok-prok … BES … prok-prok-prok … KOMBES-KOMBES-KOMBES … ALLAAAHU AKBAR!!!”

“Melihat, mendengar, menyimak, mencerna, mencoba menulis dengan hati, koreksi dengan pikiran. Rumah…. Pulang…. Tumpah emosi lewat pena, masih tak puas. Harus terus mencoba. Mencoba hingga masa itu tiba. Sungguh masa yang luar biasa namun serasa sesaat menerpa. Hingga jam 11.30 … alhamdulillaaah.”[]

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x