KOMBES | Komunitas Blogger Syaamil | Syaamil Group

Pagi ini tidak seperti biasa. (Salah satu alasannya) karena tubuh masih terasa letih, efek kelelahan dan donor darah pada hari Selasa. Sholat subuh pun dilakukan di kantor Sygma Daya Insani cabang Surabaya. Loh, kok, di kantor? Ini karena rumah saya ada di luar kota, yaitu kota Malang. Saya tinggal di kantor bersama dengan senior, yang juga punya rumah di luar kota.

Oleh karena tidur di kantor, maka kewajibannya tentu saja harus membersihkan kantor sebelum aktivitas kantor dilakukan. Menyapu halaman, menyiram taman, menyapu setiap sudut ruangan, mengelap kaca dan meja, serta mengepel lantainya. Mengawali aktivitas kantor pagi ini agak gugup, sebab ada acara launching KOMBES. Saya tidak mengetahui susunan acara yang akan disajikan.

KOMBES adalah Komunitas Blogger Syamil dan saya ingin tergabung ke dalamnya. Ingin mengikat lebih erat tali silaturahim dengan orang-orang di sana. Insya Allah dengan mengikat tali silaturahim maka memperbesar peluang memperoleh rizki. Saya yakin banyak manfaat yang akan diperoleh nantinya. Qadarullah, saya juga mempunyai blog, lho. Namanya Bondan Blog.

Oya, perkenalkan nama lengkap saya Bondan Murdani Soleh. Acara KOMBES dibuka oleh Kang Dzikri dan dilanjut dengan pembacaan ayat Al-Qolam oleh Ustadz Hidayat. Lalu ada pidato pembukaan dan sekaligus peresmian KOMBES. Intinya, Komunitas Blogger Syaamil adalah wadah untuk membangun value, baik value perusahaan maupun value individu. Sedangkan acara puncaknya adalah pelatihan menulis oleh Bang Aswi yang punya blog Sosok Itu.

Pelatihannya … langsung praktik dengan hati, hehehe. Tantangan pertama adalah menulis tentang rumah, dengan waktu 10 menit. Sayang sekali saya tidak ada di tempat dan hanya mengikuti acara ini melalui zoom, sehingga tidak bisa merasakan tekanan secara sepenuhnya seperti di tempat asal. Tidak masalah, saya akan tetap sampaikan di sini. Ini adalah tulisan saya.

Menulis dengan tema ‘Rumah’ membuat saya teringat pada Malang. Seminggu sekali saya pulang ke sana, dua jam perjalanan dari tempat bekerja. Tentu sangat rindu walaupun ada komunikasi melalui gawai atau komunikasi jarak jauh lainnya. Rumah jelas menyimpan kehangatan tersendiri, seperti charger spirit tersendiri, bertemu anak dan istri. Bahagia sekali.

Cuitan burung-burung menambah suasana kehangatan. Tidak, yang lebih menghangatkan lagi adalah ketika bercanda dengan anak. Tawa dan tangisnya menyimpan kerinduan tersendiri. Begitu juga dengan banjir, cukup menguras tenaga jika terjadi di rumah kontrakanku. Tetap harus waspada, membersihkan kotoran yang ada, dan menutup setiap lubang agar air tidak lagi masuk ke dalam.

Ada kata-kata mutiara di sana, baiti jannati. Dalam hal apapun, kita sebagai tuannya harus menumbuhkan bibit-bibit kebersyukuran dan kesabaran, serta pendidikan dan kebermanfaatan lainnya. Terima kasih, ya Allah, Engkau beri kenikmatan kepada kami akan kerinduan pada rumah. Sangat belepotan tulisan ini. Akan tetapi, saya bahagia menuliskannya.

Di Bandung, ada beberapa tulisan yang dibacakan langsung. Saya sangat terpukau karena mereka bisa merangkai kata-kata dengan sangat indah. Pelatihan berlanjut ke materi bahwa menulis itu seperti angin (wind). Setelahnya adalah tantangan kedua untuk menulis tentang ‘Pulang’. Lagi-lagi saya teringat dengan Kota Malang. Saya menunggu di setiap akhir Jumat dengan rasa gembira karena bakal bertemu keluarga di rumah.

Tiket kereta yang sudah dipesan menjadi pengingat. Dua belas ribu terlalu hemat. Pesan hati-hati dalam perjalanan tampak dalam sebuah pesan dari istri termasuk beberapa foto hidangan makanan yang mendamaikan hati. Letih seusai bekerja pun hilang. Di depan Stasiun Blimbing, saya melihat senyuman istri, lalu disambut dengan senyuman anak-anak.

Mereka bilang, ”Aku sayang Papa, aku mau pinjam hape.” Tertawa sejenak menyambut kata-kata itu.
Pulang dengan rasa bahagia ini, juga yang aku harapkan ketika nanti pulang bertemu Tuhan. Tidak ada keraguan dan tanpa keraguan. Walaupun membawa pakaian kotor, istri dengan senang hati bisa membersihkannya. Katanya, ”Besok bawa lagi yang lebih banyak.”

Dalam perjalanan, saya bertemu dengan seorang kawan. Saya menyapa menanyakan kabar. Bagaimana kabarnya? Alhamdulillah baik, kawan. Begitulah. Tulisan yang mengalir begitu saja. Saya mengerti ini masih berantakan, tapi konsepnya menulis dengan hati dan edit dengan pikiran. Saya berharap ke depan bisa berlatih lagi dengan waktu yang terbatas agar bisa membuat kumpulan kata yang efektif dan enak dibaca.[]

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x